Rabu, 12 Juni 2013

Nelayan Peduli Hutan Mangrove

Mereka adalah nelayan kecil yang menumpukan hidupnya pada laut. Kecakapannya dalam melaut adalah warisan leluhur mereka. Dengan menggunakan perahu sepanjang Tiga Setengah meter dan lebar Satu meter mereka melaut menangkap ikan dengan menggunakan jaring dari senar. Jaring yang digunakan untuk menangkap ikan, udang dan kepiting sepanjang 50 meter dengan lebar 8 meter. Mesin untuk menggerakkan perahu mereka juga kecil bisa ditenteng sendiri. Bahkan ada beberapa jenis perahu kecil yang hanya digerakkan dengan dayung tenaga tangan.

 
Para Nelayan Bahu Membahu Menurunkan Perahu
Nelayan kecil ini memiliki karakter yang berbeda dengan nelayan-nelayan besar di pantai Prigi kecamatan Watulimo. Karena perahu dan alat tangkapnya sederhana, area pencarian ikannyapun tidak jauh. Area penangkapan mereka tidak lebih dari 15 km di depan pantai Cengkrong. Tebing gunung Kumbokarno yang letaknya di sebelah kanan pantai Cengkrong adalah area favorit penangkapan mereka. Karena di tempat itu biasanya mereka memperoleh hasil tangkapan berupa udang, kepiting, dan berbagai jenis ikan karang. 

 Eko Menebarkan Jaringnya Di tepi Tebing Gunung Kumbokarno

Syaifudin, Eko, Imam dan Iwan adalah diantara nelayan kecil yang ada di pantai Cengkrong desa Karanggandu kecamatan Watulimo kabupaten Trenggalek Jawa Timur. Aktivitas melaut mereka biasanya dimulai  ketika senja mulai turun. Untuk mencapai area penangkapan kira-kira membutuhkan waktu Lima Belas menit. Setibanya di area penangkapan, jaring tersebut di pasang membentang. Prosesnya tidak terlalu lama, kira-kira Lima Belas menit. Setelah proses pemasangan jaring selesai mereka langsung pulang. Keesokan hari, pagi-pagi buta sebelum fajar menyingsing mereka menengok jaringnya. Jika beruntung mereka akan mendapatkan udang, ikan atau kepiting. Jika tidak beruntung tak satu pun mereka mendapatkan hasil tangkapan.
 Para nelayan itu selain mencari nafkah di laut mereka juga melakukan konservasi hutan mangrove yang ada di kawasan pantai Cengkrong. Hutan mangrove yang dulunya rusak parah karena dijarah dan ditebang oleh orang-orang yang tidak bertanggungjwab, kini lambat laun berkat adanya nelayan yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kejung Samudra mulai membaik.
Dengan berswadaya para nelayan menanami kembali area hutan Mangrove yang rusak dan kosong. Selain itu mereka juga membuat persemaian bibit mangrove dan cemara udang. Dari menyemaikan cemara udang dan bibit mangrove, meskipun pemesan tidak selalu ada setiap bulan namun kegiatan ini bisa menjadi alternatif untuk menambah penghasilan mereka. Prisip mereka melakukan konservasi hutan mangrove dan kawasan pantai adalah untuk memulihkan kembali hutan mangrove yang rusak dan untuk menjaga ekosistem di dalamnya, demikian ungkap Syaifudin, ketua Pokmaswas Kejung Samudra.


Para Nelayan Menanam Bibit Mangrove 

 Sedang Menyemaikan Cemara Udang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar